“Kepada kamu yang menyampaikan
telapak kakiku di depan persimpangan ini. Menemani langkahku hingga sampai di
tempatku berdiri kini, di depan dua buah jalan berbeda yang memaksaku untuk
memilih salah satu dari keduanya. Jalan yang aku tak tahu akan kutemui apa dan
bagaimana. Aku berdiri diam di tempat ini, diam, tak ingin melangkah satu
kalipun, sebab aku masih menyimpan sedikit harapan untuk melihat bayanganmu
datang dari kejauhan menuju tempat ku berdiri, atau memeluk punggungku dari
belakang, untuk kembali, sekalipun kemungkinan itu hanya setipis jaring
laba-laba. Meski katamu dulu, aku hanya perlu memilih satu jalan, antara pergi
melanjutkan, atau kembali untuk pulang, tetapi tak ada kamu pada keduanya.
Alasan aku tetap diam dipersimpangan
ini karena aku menantikan jalan lain yang barangkali saja tercipta dan di
dalamnya ada kamu, meski sempit, sesak, dan semu. Selama itu denganmu kau pikir
aku peduli? Tidak. Terhitung sejak kepergianmu aku tak memiliki arah lagi, tak
berminat memilih jalan lain selain menunggu kepulanganmu yang tak pasti.
Terhitung sejak kepergianmu harapanku mulai menipis dan terkikis, impianku,
anganku, semuanya melangkah menjauh dariku, terutama tentang kamu, nyaris mati.
Tapi aku masih berdiri di persimpangan ini, sendiri, menanti, untuk sebuah
jalan yang disana kuharap ada aku denganmu beriringan. Aku, manusia
dipersimpangan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar