Jumat, 19 Desember 2014

Manusia di persimpangan



“Kepada kamu yang menyampaikan telapak kakiku di depan persimpangan ini. Menemani langkahku hingga sampai di tempatku berdiri kini, di depan dua buah jalan berbeda yang memaksaku untuk memilih salah satu dari keduanya. Jalan yang aku tak tahu akan kutemui apa dan bagaimana. Aku berdiri diam di tempat ini, diam, tak ingin melangkah satu kalipun, sebab aku masih menyimpan sedikit harapan untuk melihat bayanganmu datang dari kejauhan menuju tempat ku berdiri, atau memeluk punggungku dari belakang, untuk kembali, sekalipun kemungkinan itu hanya setipis jaring laba-laba. Meski katamu dulu, aku hanya perlu memilih satu jalan, antara pergi melanjutkan, atau kembali untuk pulang, tetapi tak ada kamu pada keduanya.

Alasan aku tetap diam dipersimpangan ini karena aku menantikan jalan lain yang barangkali saja tercipta dan di dalamnya ada kamu, meski sempit, sesak, dan semu. Selama itu denganmu kau pikir aku peduli? Tidak. Terhitung sejak kepergianmu aku tak memiliki arah lagi, tak berminat memilih jalan lain selain menunggu kepulanganmu yang tak pasti. Terhitung sejak kepergianmu harapanku mulai menipis dan terkikis, impianku, anganku, semuanya melangkah menjauh dariku, terutama tentang kamu, nyaris mati. Tapi aku masih berdiri di persimpangan ini, sendiri, menanti, untuk sebuah jalan yang disana kuharap ada aku denganmu beriringan. Aku, manusia dipersimpangan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar