Jumat, 19 Desember 2014

Manusia di persimpangan



“Kepada kamu yang menyampaikan telapak kakiku di depan persimpangan ini. Menemani langkahku hingga sampai di tempatku berdiri kini, di depan dua buah jalan berbeda yang memaksaku untuk memilih salah satu dari keduanya. Jalan yang aku tak tahu akan kutemui apa dan bagaimana. Aku berdiri diam di tempat ini, diam, tak ingin melangkah satu kalipun, sebab aku masih menyimpan sedikit harapan untuk melihat bayanganmu datang dari kejauhan menuju tempat ku berdiri, atau memeluk punggungku dari belakang, untuk kembali, sekalipun kemungkinan itu hanya setipis jaring laba-laba. Meski katamu dulu, aku hanya perlu memilih satu jalan, antara pergi melanjutkan, atau kembali untuk pulang, tetapi tak ada kamu pada keduanya.

Alasan aku tetap diam dipersimpangan ini karena aku menantikan jalan lain yang barangkali saja tercipta dan di dalamnya ada kamu, meski sempit, sesak, dan semu. Selama itu denganmu kau pikir aku peduli? Tidak. Terhitung sejak kepergianmu aku tak memiliki arah lagi, tak berminat memilih jalan lain selain menunggu kepulanganmu yang tak pasti. Terhitung sejak kepergianmu harapanku mulai menipis dan terkikis, impianku, anganku, semuanya melangkah menjauh dariku, terutama tentang kamu, nyaris mati. Tapi aku masih berdiri di persimpangan ini, sendiri, menanti, untuk sebuah jalan yang disana kuharap ada aku denganmu beriringan. Aku, manusia dipersimpangan.”

"Pohon tetaplah tempat bertedu"


Seberapa jauh daun pergi, pohon selalu ada..
Seberapa cepat daun pergi, pohon tetap disana..
Seberapa tertariknya daun akan angin, pohon tetap selalu menarik

Pohon selalu ada ketika daun membutuhkannya, bahkan tidak hanya saat daun membutuhkan.. setiap saat pohon selalu ada. Pohon yang kini semakin kuat, semakin kokoh, semakin subur, semakin menunjukan keteduhannya.. Pohon selalu mengerti akan daun, akan kebutuhannya untuk jatuh, akan kebutuhannya untuk pergi terbawa angin.. namun, pohon tetap menerima daun dengan segala kondisinya, segala keluh kesahnya, segala kekurangannya..
Di dalam kondisi terkulai sekalipun, pohon selalu membantu daun, menyegarkan kembali, memberi makanan, menyembuhkan, dan memberi semangat..
Kasih dari pohon sungguh menyentuh hati daun.. namun, apakah terlambat bagi daun untuk menyadarinya? Tidak! Daun sudah menyadarinya sejak lama bahwa pohon begitu mengasihinya..
Pohon kini memilih bersama pohon lainnya, namun tetap mengasihi dan memperhatikan daun.. daun selalu kagun dan menghargainya..